Pendidikan Anak: Menanamkan Adab Sebelum Ilmu
Pendidikan Anak: Menanamkan Adab Sebelum Ilmu
Alhamdulillāh, waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa
‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa man wālāh.
Ibu-ibu sekalian yang dirahmati Allah, alhamdulillah seingat
saya ini pertemuan yang ketiga. Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas
tentang model pendidikan anak yang ideal. Kita sebagai umat Islam sangat
beruntung karena memiliki uswah ḥasanah, yaitu teladan yang sempurna,
Nabi Muhammad ﷺ.
Agama Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi orang
baik, bagaimana selamat dunia dan akhirat, serta bagaimana membangun keluarga
yang bahagia, tetapi juga memberikan contoh nyata. Tanpa contoh,
seseorang akan kesulitan. Bahkan dalam hal sederhana seperti olahraga saja,
orang membutuhkan model untuk ditiru. Demikian pula dalam mendidik diri, anak,
dan keluarga, kita membutuhkan teladan, dan teladan terbaik itu adalah
Rasulullah ﷺ.
Rasulullah bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan
akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah sesuatu yang sangat
sentral, karena akhlak merupakan perwujudan dari iman. Iman berada di dalam
hati dan tidak terlihat, sedangkan akhlak tampak dalam perbuatan.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang
paling baik akhlaknya.”
Maka, untuk mengukur iman seseorang, dapat dilihat dari
akhlaknya: kejujuran, amanah, dan perilaku sehari-hari.
Perbedaan Akhlak dan Karakter
Saat ini banyak orang berbicara tentang pendidikan
karakter. Di berbagai negara, orang yang tidak beragama pun bisa jujur,
disiplin, dan pekerja keras. Mereka menyebutnya moralitas tanpa agama.
Namun dalam Islam, akhlak tidak hanya dibentuk oleh
kebiasaan atau budaya, tetapi berakar pada iman. Karena itu, pendidikan
akhlak dalam Islam bukan sekadar pembiasaan, melainkan penanaman nilai yang
bersumber dari tauhid.
Pendidikan Adalah Mendidik, Bukan Sekadar Mengajar
Dalam konsep pendidikan klasik, guru bukan hanya mengajar
(transfer of knowledge), tetapi juga mendidik, yaitu membentuk
kepribadian: kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak.
Dalam istilah Islam, proses ini disebut ta’dīb, yaitu
pembentukan adab.
Tujuan pendidikan dalam Islam, sebagaimana dijelaskan oleh
Syed Muhammad Naquib al-Attas, adalah:
Menanamkan kebaikan dan keadilan dalam diri manusia.
Jadi pendidikan bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi
menanamkan nilai.
Tanggung Jawab Pendidikan Anak Ada pada Orang Tua
Pendidikan anak bukan tanggung jawab sekolah atau
pesantren, melainkan tanggung jawab orang tua. Sekolah hanya membantu.
Allah berfirman:
Yang akan ditanya di akhirat adalah bagaimana kita mendidik
keluarga kita, bukan siapa presiden atau pemimpin kita.
Anak memiliki hak atas orang tuanya, di antaranya:
- Mendapatkan
nama yang baik.
- Mendapatkan
nafkah dan lingkungan yang baik.
- Mendapatkan
pendidikan dan adab yang baik.
Menanamkan Adab Sebelum Ilmu
Prinsip penting dalam pendidikan anak adalah:
1. Menanamkan adab sebelum ilmu.
Anak harus dididik:
- Adab
kepada Allah
- Adab
kepada Rasul
- Adab
kepada orang tua
- Adab
kepada guru dan ulama
Adab kepada Allah berarti bertauhid, menjadikan Allah
sebagai yang paling dicintai, ditakuti, dan ditaati.
Kewajiban Orang Tua: Mendidik Akhlak Anak
Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu menasihatkan bahwa
agar keluarga selamat dunia dan akhirat, ada dua kewajiban:
- Didiklah
mereka dengan adab (adibūhum).
- Ajarkanlah
mereka ilmu (wa ‘allimūhum).
Artinya, akhlak didahulukan, baru ilmu.
Empat Pokok Akhlak Menurut Imam al-Ghazali
Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa pokok akhlak ada empat:
- Hikmah
– kebijaksanaan.
- ‘Iffah
– menjaga kehormatan diri, tidak merendahkan martabat.
- Syaja‘ah
– keberanian.
- ‘Adl
– keadilan (disebutkan dalam teori akhlak beliau secara umum).
Contohnya:
- Anak
harus dilatih menjaga kehormatan diri.
- Anak
harus berani, tidak menjadi penakut yang selalu dibayangi ketakutan yang
tidak jelas.
Banyak ketakutan manusia sebenarnya hanya bayangan: takut
rugi, takut gagal, takut masa depan. Padahal ketakutan berlebihan dapat menjadi
penyakit hati.
Rasulullah ﷺ
mengajarkan doa:
Kesedihan biasanya berasal dari dua hal:
- Mengingat
masa lalu.
- Khawatir
terhadap masa depan.
Tantangan Orang Tua di Zaman Sekarang
Di zaman sekarang, tantangan mendidik anak semakin berat
karena arus informasi sangat terbuka. Orang tua harus lebih berperan aktif
membimbing anak, karena pengaruh luar sangat besar.
Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua mengira
kewajibannya hanya menyekolahkan anak, padahal kewajiban utamanya adalah
mendidik.
Ilmu yang Bermanfaat dan Peran Orang Tua dalam Pendidikan
Anak
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Ibu-ibu sekalian yang dirahmati Allah, kita sering
diingatkan tentang nikmat kesehatan. Banyak orang rutin memeriksa kesehatan,
cek laboratorium, dan sebagainya. Ketika kita menyadari bahwa jantung, ginjal,
dan tubuh kita masih sehat, itu adalah nikmat yang sangat besar.
Kesehatan itu tidak bisa dihitung dengan uang. Karena itu,
semakin kita sadar akan nikmat Allah, seharusnya rasa takut kepada Allah
semakin meningkat, cinta kepada akhirat semakin kuat, dan kecintaan kepada
dunia semakin berkurang.
Mengurangi Kecintaan kepada Dunia
Semakin bertambah umur dan ilmu, kecintaan kepada dunia
seharusnya berkurang. Jika umur bertambah tetapi cinta dunia semakin besar, itu
tanda ilmu belum memberi manfaat.
Padahal dunia ini sebentar lagi akan kita tinggalkan.
Semakin banyak amanah, semakin banyak jabatan, semakin banyak harta, maka
semakin berat pula pertanggungjawabannya di akhirat.
Orang yang cerdas bukan hanya cerdas dalam urusan dunia,
tetapi cerdas mempersiapkan bekal akhirat.
Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas mengatakan:
Di antara tanda orang berakal di dalam dunia, ia
mengambil bekal.
Artinya, dunia ini hanyalah tempat mengumpulkan bekal.
Pentingnya Sedekah dan Amal Jariyah
Sering kali kita menyimpan barang yang tidak terpakai,
padahal seharusnya bisa disedekahkan. Jangan sampai kita menyesal ketika ajal
sudah datang.
Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an:
Namun Allah menegaskan bahwa apabila ajal telah tiba, tidak
akan ditunda lagi.
Karena itu, orang yang cerdas adalah yang memanfaatkan
hidupnya untuk amal jariyah.
Mengarahkan Anak kepada Ilmu yang Bermanfaat
Salah satu amal jariyah yang besar adalah mendidik anak
agar berilmu dan mengamalkan ilmunya.
Jika seorang anak menjadi guru atau dai, maka setiap ilmu
yang diajarkan akan menjadi pahala bagi orang tuanya. Setiap orang yang
mengamalkan ilmu itu, pahalanya terus mengalir.
Inilah sebabnya sebagian orang tua lebih mendorong anaknya
menjadi guru, pendidik, atau dai, karena manfaatnya luas dan pahalanya terus
mengalir.
Teladan dari Generasi Sebelumnya
Banyak ulama dan guru dahulu hidup sederhana tetapi memiliki
pengaruh besar.
Ada guru madrasah yang mengajar dari pagi sampai sore tanpa
bayaran, sementara istrinya berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun
berapa banyak murid yang bisa membaca Al-Qur’an karena beliau? Pahalanya terus
mengalir.
Begitu pula pendidikan dahulu sangat disiplin:
- Pagi
sekolah
- Siang
madrasah
- Sore
membantu di surau
- Malam
mengaji
Didikan orang tua sangat besar pengaruhnya. Ketaatan kepada
orang tua menjadi teladan bagi anak-anak kelak.
Peran Orang Tua Sangat Besar
Peran orang tua dalam mendidik anak sangat menentukan.
Kadang orang tua harus tegas dan sabar, bahkan ketika anak merasa berat
menjalani pendidikan, seperti di pesantren.
Kesabaran dalam menuntut ilmu sering kali menjadi sebab
keberhasilan di masa depan.
Mendidik anak bukan hanya memberi fasilitas, tetapi juga
membentuk mental, kesabaran, dan akhlaknya.
Ciri-Ciri Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat memiliki beberapa tanda:
- Mengurangi
kecintaan kepada dunia.
- Mempertajam basirah (mata hati).Ilmu membuat seseorang melihat kekurangan dirinya sendiri.
- Mendorong
semangat beribadah.
- Menguatkan
hubungan dengan Allah.
- Membantu
mengenali tipu daya setan.
Ilmu yang benar membuat seseorang semakin rendah hati, bukan
semakin sombong.
Cara Mendapatkan Ilmu yang Bermanfaat
Ada dua hal penting:
1. Niat yang Ikhlas
Menuntut ilmu harus diniatkan untuk mencari ridha Allah,
bukan sekadar gelar atau kedudukan.
2. Beradab dalam Menuntut Ilmu
Adab dalam menuntut ilmu meliputi:
- Beradab
kepada guru
- Beradab
kepada orang tua
- Beradab
kepada teman
- Beradab
kepada majelis ilmu
Termasuk adab majelis ilmu adalah tidak berbicara sendiri
atau mengganggu orang lain, karena itu dapat menghalangi orang dari mendapatkan
hidayah.
Memilih Guru Lebih Penting daripada Memilih Sekolah
Ulama dahulu sangat berhati-hati dalam memilih guru. Kadang
seseorang tinggal berbulan-bulan di suatu tempat hanya untuk memastikan
kualitas seorang guru.
Karena yang paling penting bukan gedung sekolahnya, tetapi siapa
yang mendidik.
Guru yang mengajar dengan hati akan memberi pengaruh besar
kepada muridnya.
Penutup
Mendidik anak di zaman sekarang memang semakin berat. Karena
itu, kita membutuhkan ilmu, hikmah, dan kesabaran.
Mudah-mudahan Allah membimbing kita semua, meridai usaha
kita dalam mendidik anak-anak kita, dan menjadikan ilmu yang kita pelajari
sebagai ilmu yang bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar